Wednesday

Road to Yogya Kost 14






About this picture...
01 & 02 Mei 2008...
Great Schedule...
Great Time...
Great Journey...
Great People...
Great adventure....

Great Memories...

I will Always remember all of You My Friend...

Sunday

Blue Film: Candy for Couples

Polling YADA Institute: ”Untuk menjaga gairah seksual, suami-istri sekali-kali perlu nonton BF (Blue Film)” direspon oleh 104 respondent dengan hasil 66.3% Tidak Setuju, 26% Setuju, 7.7% Tidak Tahu.

Polling ini saya buat untuk mengetahui bagaimana pandangan orang percaya terhadap Blue Film dalam pernikahan, sebab hampir dalam setiap acara talkshow di radio, konsultasi lewat media maupun dalam seminar-seminar yang saya pimpin pertanyaan tersebut selalu muncul. Sekarang saya mengetahui prosentasi jumlah orang kristen yang menyetujui penggunaan materi blue film untuk menjaga gairah seksual suami-istri......

Semenjak Hugh Hefner menerbitkan majalah playboy pada tahun 1953, industri pornografi dan film erotik berkembang luar biasa, bahkan telah menjadi ‘business’ empire’ dengan keuntungan milyaran dollar amerika setiap tahun. Sebagai contoh, dari internet saya industri pornografi meraup keuntungan sekitar 11 Milyar dollar amerika setiap tahun. Dengan kekuatan finansial seperti ini, industri pornografi bisa melakukan apa saja untuk mempertahankan eksistensi bisnisnya, bahkan membesarkannya dari waktu ke waktu.

Orang dewasa, atau suami-istri adalah target market yang lebih strategis dibandingkan dengan anak-anak atau remaja, ditinjau dari sisi daya beli. Karena itu industri pornografi melakukan ”edukasi” secara intensif dan sistematik untuk potensial market mereka ini. Proses edukasi ini rupanya ’berhasil’ menanamkan berbagai alasan ’logic’ untuk menggunakan materi pornografi bagi kalangan dewasa atau suami-istri.

Karena itu tidak heran jika 26 % orang kristen di Indonesia setuju penggunaan blue film untuk menjaga gairah seksual mereka. Mereka yang setuju, sangat besar kemungkinannya untuk menggunakan materi-materi seperti itu. Jika jumlah orang kristen di Indonesia 20 juta (10% dari 200 juta) maka secara kasar 5.200.000 orang kristen adalah konsumen aktif blue film. Andai kata setiap tahun masing-masing belanja 1 keping saja VCD blue film seharga Rp.10.000, maka orang kristen di indonesia menyumbangkan dana sebesar Rp. 52 Milyar untuk Industri pornografi setiap tahunnya.

Masih ada 66,3 % orang kristen yang tidak setuju penggunaan blue film untuk menjaga gairah seksual mereka. Jumlah yang cukup melegakan. Saya percaya mereka ini menyadari hal-hal berikut ini:

Blue film membangkitkan gairah seksual yang semu. Blue film dibuat untuk menggelorakan lust driven. Pemilihan aktor, artis, visual effect, setting cerita semua bermuara untuk membangkitkan gairah seksual penontonya. Gairah seksual yang muncul saat seseorang atau suami-istri sedang menonton blue film akan tertuju pada aktor/ artis yang ada didalam film. Bukankah hal ini masuk dalam kategori perzinahan; Sebab Tuhan Yesus berkata:
Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. (Matius 5:28)
Disamping itu, kebiasaan mengkonsumsi blue film ini akan menimbulkan ribbon effect, yaitu tanpa blue film gairah seksual mereka semakin menurun dan dalam tahap tertentu seorang pria bisa mengalami impotency situational , yaitu tidak bisa ereksi dan melakukan persetubuhan dengan istri, tetapi bisa ereksi bila ada rangsangan dari wanita lain. Demikian sebaliknya dengan wanita, semakin tidak bergairah pada suami tetapi pada pria-pria dalam fantasinya. Dari sini kita lihat, satu kali suami-istri nonton blue film mereka akan mudah terikat dalam kebiasaan ini, kualitas hubungan seksual mereka akan semakin menurun, dan merupakan langkah menuju perselingkuhan serta kehancuran pernikahan.

Blue film mendorong orang untuk berpetualang dalam prilaku seks tanpa batas. Semenjak 10 tahun lalu, pertanyaan seputar oral seks sangat marak dalam seminar-seminar yang saya pimpin, hal ini mendoronga saya untuk melakukan penelitian, ”Darimana munculnya gagasan untuk melakukan oral seks ini”. Hasil penelitian saya menyatakan bahwa semua (100%) pelaku oral seks yang saya teliti, ternyata mendapatkan gagasan untuk melakukan oral seks dari VCD blue film yang mereka tonton. Ketika mengetahui hasil penelitian tentang oral seks tersebut, saya menduga bahwa tidak lama setelah itu ’kualitas’ pertanyaan dalam seminar seks akan meningkat. Dugaan saya terbukti, sejak tiga tahun terakhir ’kualitas’ pertanyaan dalam seminar-seminar seks yang saya pimpin terbukti ’meningkat’. Sejak tiga tahun lalu mulai marak pertanyaan tentang anal seks, bahkan dalam acara-acara yang lebih ’private’ yaitu talkshow di radio, pertanyaan dan pengakuan tentang ’burger’, suatu istilah tentang hubungan seksual antara satu pria dan dua atau lebih wanita sekaligus mulai marak juga.

Mengapa hal-hal semacam ini bisa terjadi. Saya akan coba jelaskan fenomena ini. Manusia pada dasarnya adalah ’the great imitator’. Hampir semua yang ada pada diri kita adalah hasil dari proses meniru. Sewaktu kita kecil, kita meniru semua hal yang dilakukan orang tua kita; Ketika kita sekolah kita meniru guru-guru kita, saat kita remaja kita meniru tokoh-tokoh yang kita idolakan, dan sampai kapanpun proses meniru ini akan terus berlangsung. Proses meniru ini didefinisikan dan dijelaskan dalam konsep ’social learning theori’ ; Firman Tuhan sendiri jelas mengatakan: “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya”. (Amsal 27:17). Nah proses meniru ini akan berjalan dengan sangat cepat melalui komunikasi visual. Bukankah dikatakan ‘one picture told thousands words”. Dunia advertising sangat mengetahui fakta ini, itu sebab nya iklan melalui televisi maupun film sangat efektif dalam proses ’edukasi’ konsumen. Dengan dasar pemahaman ini, tidak heran kalau pelaku oral seks melakukan aktifitas oral seks nya setelah nonton Blue film, dan tidak terlalu mengejutkan setelah meniru prilaku oral seks mereka akan sangat mudah meniru prilaku anal seks, dan prilaku-prilaku lain yang ditampilkan dalam blue film. Pada akhirnya, mereka yang punya kebiasaan nonton blue film akan cenderung terlibat dalam petualangan prilaku seks yang tanpa batas.

Blue film memicu terjadinya ’porn addict’. Hal-hal yang memberikan efek ‘recreational’ berpotensi menimbulkan kecanduan. Untuk proses pertahanan hidup, manusia diperlengkapi dengan kapasitas untuk menghindarkan ’pain’. Kemampuan untuk merasakan nyeri adalah ’alert system’ yang secara natural akan menghindarkan kita dari bahaya. Bahkan ’alert system’ kita diperlengkapi dengan ’auto move system’ yang secara otomatis akan membuat kita melakukan gerakan diluar kesadaran untuk menghindar bahaya. Sebagai contoh, kalau tiba-tiba tangan kita menyentuh sesuatu yang panas, tangan kita akan bergerak untuk menjauhi benda panas yang tersentuh, gerakan ini disebut gerak refleks. Sebaliknya ’survival system’ cenderung mendorong kita untuk mencari hal-hal yang nyaman. Contoh, dahulu sebelum manusia memiliki pengetahuan tentang bahan makanan yang baik untuk dikonsumsi, ’taste’ adalah ’natural guidance’ nya. Buah-buahan yang manis cenderung aman dikonsumsi, sementara yang terasa pahit sangat mungkin mengandung racun yang berbahaya. Namun menyerahkan semua proses hidup pada upaya menghindar ‘pain’ dan mencari ‘satisfaction’ seringkali justru berbahaya. Terbukti tumbuhan tertentu yang pahit seperti kina justru merupakan obat yang luar biasa, rasa manis pada candy justru membahayakan kesehatan gigi bahkan berpotensi menimbulkan penyakit yang lebih serius, Diabetes Mellitus.

Secara natural tubuh kita akan mencari hal-hal yang enak, nyaman, menyenangkan. Dan ketika ada suatu kenikmatan yang kita rasakan, otak kita akan memproduksi neurotransmitter sebagai respon atas input kesenangan tersebut. Proses ini sebenarnya membentuk suatu ’template’ di dalam otak yang cenderung mempertahankan kondisi nyaman tersebut. Upaya otak untuk mempertahankan kondisi nyaman inilah yang kemudian menimbulkan ‘craving effect’. Kalau kadar gula dalam otak saudara turun, saudara akan merasa lapar, dan saudara akan terdorong untuk mencari makanan. ’Rasa lapar’ seperti ini bisa terjadi pada mereka yang mengkonsumsi materi-materi pornografi, inilah yang kita sebut ’craving effect’. Saat seseorang menonton blue film, otak mereka mengenali sesuatu yang menyenangkan, dan terbentuklah ‘template’ nya. ’Template’ ini adalah suatu sistem yang bekerja untuk mempertahankan kesenangan tersebut. Ketika sumber kesenangan tersebut tidak ada, otak akan mendorong untuk mencari sumber kesenangan tersebut. Inilah ‘craving effect’, inilah ’porn addict’.

Karena itu, transformasi prilaku seksual akan terjadi ketika Firman Tuhan dihidupi secara penuh seperti yang dinyatakan dalam:
Roma 12 : 2 ”Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
Saudara perhatikan, perubahan radikal seperti yang terjadi pada kupu-kupu yang mengalami metamorfosis bisa saudara alami bila saudara mengalami pembaharuan didalam akal budi. Akal budi yang memiliki tiga elemen (Touch, feeling, and will) bekerja dalam organ tubuh saudara yang disebut otak. Saya yakin ’porn addict’ bisa diatasi dengan ’Bible addict’. Mereka yang ‘Bible addict’ akan membaca dan merenungkan Firman Tuhan, siang dan malam. (draw)
Written by Dr.Andik Wijaya MRep.Med

Tanda-Tanda Salah Pilih Pasangan

Bagi Anda yang baru memiliki pasangan baru memang akan merasa bahagia. Tapi apakah Anda yakin bahwa dia adalah orang yang tepat untuk menjadi pasangan Anda? Tanda terpenting yang seringkali kita mengerti mengenai pasangan hidup adalah seseorang yang seiman dan cinta Tuhan. Namun di luar itu, ada beberapa hal lain yang perlu Anda pertimbangkan yang seringkali belum menjadi masalah saat ini karena perasaan cinta yang menggebu, namun pada akhirnya bisa menjadi masalah dan Anda merasa cukup terganggu dengan hal itu. Jadi sebelum Anda mengarah pada hubungan yang lebih serius, sebaiknya Anda simak beberapa tanda bahwa dia memang bukan orang yang tepat.

Lebih Banyak Berkorban

Cinta memang butuh pengorbanan. Dalam suatu hubungan tidak boleh menghitung untung rugi. Tapi jika Anda lebih banyak berkorban sedangkan dia tenang-tenang saja, memang tidak fair. Apabila Anda mau mengorbankan waktu bersama teman-temannya, keluarga hanya untuk dia, sedangkan dia tidak pernah melakukannya untuk Anda. Maka hal ini menandakan bahwa dia bukanlah orang yang tepat.

Teman Mulai Menjauh

Sebelum dia menjadi kekasih, teman-teman mengelilingi Anda. Keadaan berubah seratus delapan puluh derajat ketika Anda menjalin cinta dengan si dia. Satu persatu sahabat Anda menghilang dan menjauh maka jangan salahkan mereka. Mungkin saja sikap mereka dilatarbelakangi oleh sikap Anda yang berubah sejak memiliki dia dan Anda bukan teman yang mengasyikan lagi.

Sahabat Enggan Membicarakannya

Saat Anda membicarakan tentang dia, ekspresi wajah dan body language sahabat Anda terlihat resah. Mulai rajin melihat jam tangan seolah dia tidak betah mengobrol berlama-lama dengan Anda. Atau setiap kali Anda menyebut nama dia dan bersemangat menceritakan betapa hebatnya si dia, sahabat Anda mengalihkan pembicaraan atau hanya menanggapi seadanya.

Hubungan Panas Dingin

Di awal hubungan, sudah pasti Anda dan pasangan sedang hangat-hangatnya. Tapi semakin hari dia berubah menjadi acuh dan dingin maka menandakan bahwa dia belum mau berhubungan serius dengan Anda. Ketika ia melihat Anda begitu serius menjalani hubungan, dia merasa tidak enak hati. Tak heran sikapnya jadi berubah seperti itu. Kalau Anda ingin hubungan yang mantap dengannya, maka Anda telah salah pilih orang.

Terlalu Banyak Usaha

Anda seringkali terlalu usaha untuk sekedar bertemu dia. Anda selalu menemukan cara untuk bisa main ke kantor dan tempat tinggalnya, entah itu sengaja makan di resto dekat kantornya, atau tiba-tiba datang ke kantornya untuk memberi sesuatu. Atau bahkan Anda rela bersusah payah mengatur perjalanan untuk bertemu dengannya di tempat dinas di luar kota. Padahal, sejujurnya dia tidak menanggapi dengan antusias semua usaha Anda itu.

Hidup Terasa Terkekang

Anda yang tadinya super aktif, independen, penuh semangat, tiba-tiba berubah menjadi orang yang tergantung dan tunduk kepadanya. Anda tidak lagi ke tempat yang diinginkan sesuka hati, atau beraktifitas sesuai minat tanpa seizin dia. Jika Anda ingin pergi ke tempat yang Anda inginkan maka ada syaratnya yaitu harus bersama dia. Pergaulan Anda pun mendapat pengawasan ketat darinya sehingga terkadang dia akan menginterogasi Anda seperti seorang polisi kepada penjahat. Apalagi saat Anda sedang makan siang bersama rekan kerja lelaki, pasti dia akan lebih memperketat kekangannya.

Berat Tubuh Susut

Berat badan Anda sebelum dan sesudah menjadi pasangannya susut 3 hingga 4 kg. Ada dua kemungkinan terjadinya penyusutan ini, Anda melakukan diet keras untuk mendapatkan tubuh yang ideal atau Anda sering tertekan memikirkan sikap dan perilakunya terhadap Anda yang seringkali menyakitkan hati.

Tidak Percaya Diri

Anda selalu merasa menyesal telah salah pilih baju, aksesori, bahkan kata-kata setiap habis bertemu dengannya. Jangan mencari-cari kesalahan sendiri, karena kehadiran seorang pasangan seharusnya menjadi pendongkrak percaya diri dan penenang diri Anda. Jadi apabila Anda merasa serba salah dan takut, sebaiknya tinggalkan dia mulai dari sekarang.

Suami / Istri Orang

Jika kekasih Anda adalah suami / istri orang, maka sudah pasti Anda salah pilih orang. Karena sudah jelas dia sudah memiliki keluarga tapi Anda masih tetap mau menjadi pasangannya. Lelaki berstatus suami orang memang sangat menarik hati, apalagi rayuannya. Tapi mereka paling senang mengobral janji, egois tanpa memikirkan perasaan Anda. Jadi untuk apa Anda menunggu dia, saat dia mengatakan akan menceraikan istrinya, sudah pasti hal itu jarang sekali terjadi. Pikirkan juga bagaimana perasaan keluarganya, bagaimana Anda menyakiti hati mereka, dan bayangkan bagaimana sakitnya Anda jika Anda berada di posisi mereka.

Jika Anda menemukan tanda-tanda ini dalam hubungan Anda saat ini, cobalah pertimbangkan kembali dengan berpikir secara jernih dan jangan lupa bawa di dalam doa. Namun jika hal itu memang bukan suatu masalah bagi Anda dan Anda yakin dapat melewatinya bersama dengan si ‘Dia', mungkin Anda dapat memutuskan untuk mempertahankan hubungan Anda dengan penuh keyakinan. Tapi tentu saja Anda harus siap dengan konsekuensinya kelak. Namun hal ini tidak berlaku bila dia adalah suami / istri orang. Karena untuk hal yang satu itu, tidak ada jalan kompromi yang dapat Anda ambil selain mengakhiri hubungan Anda saat ini juga.