Tuesday

Menatap Hari Esok


Menatap Hari Esok

Sobat blogger, sebuah proses penting baru saja dilewati bangsa ini. Proses yang melewati masa-masa meletihkan, ditengarai sejuta kecurigaan, dan berakhir dengan keputusan pahit bagi yang sedang berkuasa.

Namun, apa pun yang terjadi, bangsa ini harus mulai menatap ke depan. Menghadapi lawan-lawan tangguh yang terkonsolidasi kuat, sementara di antara kita masih suka berhadap-hadapan. Semoga saja kemelut politik di negeri ini segera berakhir. Menghapus semua amarah dan dendam. Saya ingin mengajak Anda merenungi kisah dua negara, yang satu berhasil keluar dari kemelut dan satunya lagi terbelenggu dalam siklus dendam tiada akhir.

Zimbabwe dan Afrika Selatan

Bapak psikologi positif Seligman pernah membandingkan kedua negara ini. Afrika Selatan adalah negeri apartheid yang kental dengan tetesan darah berceceran. Mereka memenjarakan tokoh kulit hitam Nelson Mandela hampir dalam seluruh usia mudanya. Suasana berubah setelah dunia mulai menaruh perhatian pada masalah human right. Komunisme di era 1980-an bukanlah lagi musuh bagi kapitalisme.

Penindasan terhadap hak asasi manusia, itulah musuh bersama dunia.Pemerintah apartheid terus ditekan dunia dan mereka tak kuasa membendung perlawanan rakyat Afrika Selatan. Mandela pun harus dilepaskan dan apartheidberakhir. Pemerintah kulit putih yang menjalankan prinsip apartheid tentu cemas melepas Mandela.

Dunia usaha sangat khawatir,salah satunya adalah Shell, perusahaan asal Belanda yang sudah mengakar kuat di ujung selatan Afrika yang beriklim sejuk itu. Menjelang pelepasan Mandela, Shell tergopoh-gopoh melepas seluruh kepemilikannya pada jaringan pompa bensin di Afrika Selatan yang kelak dibeli Petronas.

Apa yang dikhawatirkan Shell dan ratusan investor riil asing lainnya di Afrika Selatan? Benar! Mereka khawatir Mandela dan rakyat kulit hitam yang meraih kemerdekaan akan membalas dendam. Begitulah jalan berpikir umum. Mandela bukan hanya membalas, melainkan juga merampas kembali hak-haknya.

Menasionalisasi perusahaan-perusahaan asing. Namun, apa yang dilakukan Mandela? Mandela ternyata memilih jalur damai. Persis seperti Megawati yang memaafkan keluarga Soeharto. Ia tidak menuruti kehendak para pengikutnya dengan membalas dendam, melainkan meneruskan apa adanya. Ia mengajak bangsanya keluar dari perilaku buruk balas-membalas. Ia memaafkan lawan-lawan politik seikhlas-ikhlasnya.

Sekarang mari kita lihat apa yang terjadi di Zimbabwe. Berbeda dengan Mandela yang mengambil jalan damai,Robert Mugabe mengambil jalan memaafkan "abuabu". Maaf oke,tapi proses hukum jalan terus. Ia mewariskan dendam, menangkap lawan-lawan politiknya, dan melakukan nasionalisasi tanpa henti. Lantas apa yang bisa kita lihat dari ekonomi kedua negara itu? Afrika Selatan telah tumbuh menjadi negeri yang stabil dan sejahtera.

Negeri ini sebentar lagi akan menjadi tuan rumah perebutan Piala Dunia sepak bola 2010. Polisi Afrika Selatan bahkan belum lama ini memberikan jaminan negerinya aman bagi semua tim sepak bola asing yang akan berlaga di sana. Saat mengunjungi Afrika Selatan beberapa waktu lalu, saya tidak menyaksikan dendam.

Semua adalah suka cita dan rakyat sibuk mengejar masa depan. Lantas, bagaimana dengan Zimbabwe? Silakan buka mesin pencari data dari komputer atau handphone Anda. Anda akan menemukan fakta-fakta yang sebaliknya. Rusuh, kumuh,konflik, rasa tidak puas, dan seterusnya.

Dendam Politik Ekonomi

Suka atau tidak suka, diakui atau tidak, krisis demi krisis politik yang dialami bangsa ini di era Reformasi erat dengan warna dendam antar para penguasa atau antarbendera yang diwarnai berbagai kepentingan. Budaya malu yang kental di Asia ditambah unsur perasaan yang begitu dominan telah membuat kepemimpinan diwarnai dendam dan amarah.

Selain mudah tersinggung, konon, orang-orang Asia tidak mudah melupakan suatu kejadian yang mempermalukan dirinya. Gesekan- gesekan kecil dapat bermuara menjadi besar. Ditambah dengan tradisi kepatuhan dan ketaatan melakukan tugas demi kemenangan atasan menambah hubungan antarorang dan antarlembaga politik menjadi kompleks.

Saya jadi teringat dengan studi yang dilakukan Stanley Milgram pada 1960-an. Milgran ingin mengetahui apa yang menyebabkan prajurit dan elite Jerman yang cerdas itu begitu patuh terhadap Hitler semasa Perang Dunia II? Milgran melakukan eksperimen dengan menggunakan seseorang yang dilatih bersandiwara. Ia bertindak sebagai orang yang diinterogasi dan bila ia tidak menjawab apa yang diajukan seorang yang dibayar lainnya, ia akan disetrum.

Orang itu dilatih menjadi seorang aktor yang pandai bersandiwara. Padahal, kabel listrik tidak dipasang. Milgram merekrut sejumlah orang yang ditugaskan menjadi interogator. Ia harus menekan seseorang yang dicurigai.Bila ia tidak memberi jawaban,ia akan menaikkan voltage-nya dan orang itu akan mengerang kesakitan (berpura-pura tanpa diketahui interogator) . Milgran hanya ingin tahu seberapa besar "orang bayaran" menjalankan misi yang dibebankan kepadanya.

Dalam bukunya yang berjudul Obedience to Authority, Milgram menyimpulkan, seseorang yang diberi tugas bisa fokus pada perintah dan kehilangan hati nuraninya. Saya tidak tahu seperti apa teman-teman di dunia politik menjalankan misinya. Untuk siapa dan misiapayangdibawa tiaporang? Namun, saya ingin mengatakan, kita bisa saja fokus pada cita-cita dan nasionalisme menggebu-gebu dalam diri kita, tetapi sangat berbahaya bila kita tidak menyadari di balik itu semua ada balas-membalas yang dapat berkelanjutan tiada ujung.

Apa pun yang telah diambil, negeri ini harus mulai berbenah. Stop balas-membalas sampai di sini dan bersatulah! Kita sudah letih menyaksikan pertunjukan yang melemahkan bangsa ini. Mulailah memimpin dengan integritas dan jangan melakukan kecurangan untuk mengantar negeri ini ke hari esok. bagaimana menurut sobat???

Tempat Tak Tergantikan


Empat tahun yang lalu, kecelakaan telah merenggut orang yang kukasihi, sering aku bertanya-tanya, bagaimana keadaan istri saya sekarang di alam surgawi, baik-baik sajakah? Dia pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan sorang suami yang tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak yang masih begitu kecil. Begitulah yang kurasakan, karena selama ini saya merasa bahwa saya telah gagal, tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anak saya, dan gagal untuk menjadi ayah dan ibu untuk anak saya.

Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja, aku harus segera berangkat ke kantor, anak saya masih tertidur. Ohhh... aku harus menyediakan makan untuknya.

Karena masih ada sisa nasi, jadi aku menggoreng telur untuk dia makan. Setelah memberitahu anak saya yang masih mengantuk, kemudian aku bergegas berangkat ke tempat kerja.

Peran ganda yang kujalani, membuat energiku benar-benar terkuras. Suatu hari ketika aku pulang kerja aku merasa sangat lelah, setelah bekerja sepanjang hari. Hanya sekilas aku memeluk dan mencium anakku, saya langsung masuk ke kamar tidur, dan melewatkan makan malam. Namun, ketika aku merebahkan badan ke tempat tidur dengan maksud untuk tidur sejenak menghilangkan kepenatan, tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang pecah dan tumpah seperti cairan hangat! Aku membuka selimut dan..... di sanalah sumber 'masalah'nya ... sebuah mangkuk yang pecah dengan mie instan yang berantakan di seprai dan selimut!

Oh...Tuhan! Aku begitu marah, aku mengambil gantungan pakaian, dan langsung menghujani anak saya yang sedang gembira bermain dengan main anny a, dengan pukulan-pukulan! Dia hanya menangis, sedikitpun tidak meminta belas kasihan, dia hanya memberi penjelasan singkat:

"Dad, tadi aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi. Tapi ayah belum pulang, jadi aku ingin memasak mie instan. Aku ingat, ayah pernah mengatakan untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada orang dewasa di sekitar, maka aku menyalakan mesin air minum ini dan menggunakan air panas untuk memasak mie. Satu untuk ayah dan yang satu lagi untuk saya .. Karena aku takut mie'nya akan menjadi dingin, jadi aku menyimp anny a di bawah selimut supaya tetap hangat sampai ayah pulang. Tapi aku lupa untuk mengingatkan ayah karena aku sedang bermain dengan mainan saya ... Saya minta maaf Dad ... "

Seketika, air mata mulai mengalir di pipiku ... tetapi, saya tidak ingin anak saya melihat ayahnya menangis maka aku berlari ke kamar mandi dan menangis dengan menyalakan shower di kamar mandi untuk menutupi suara tangis saya. Setelah beberapa lama, aku hampiri anak saya, memeluknya dengan erat dan memberikan obat kepadanya atas luka bekas pukulan dipantatnya, lalu aku membujuknya untuk tidur. Kemudian aku membersihkan kotoran tumpahan mie di tempat tidur.

Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam, aku melewati kamar anakku, dan melihat anakku masih menangis, bukan karena rasa sakit di pantatnya, tapi karena dia sedang melihat foto mommy yang dikasihinya.

Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, saya mencoba, dalam periode ini, untuk memusatkan perhatian dengan memberinya kasih sayang seorang ayah dan juga kasih sayang seorang ibu, serta memperhatikan semua kebutuh anny a. Tanpa terasa, anakku sudah berumur tujuh tahun, dan akan lulus dari Taman Kanak-kanak. Untungnya, insiden yang terjadi tidak meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa dengan bahagia.

Namun... belum lama, aku sudah memukul anakku lagi, saya benar-benar menyesal....

Guru Taman Kanak-kanaknya memanggilku dan memberitahukan bahwa anak saya absen dari sekolah. Aku pulang kerumah lebih awal dari kantor, aku berharap dia bisa menjelaskan. Tapi ia tidak ada dirumah, aku pergi mencari di sekitar rumah kami, memangil-manggil namanya dan akhirnya menemukan dirinya di sebuah toko alat tulis, sedang bermain komputer game dengan gembira. Aku marah, membawanya pulang dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan. Dia diam saja lalu mengatakan, "Aku minta maaf, Dad".

Selang beberapa lama aku selidiki, ternyata ia absen dari acara "pertunjukan bakat" yang diadakan oleh sekolah, karena yg diundang adalah siswa dengan ibunya. Dan itulah alasan ketidakhadir anny a karena ia tidak punya ibu......

Beberapa hari setelah penghukuman dengan pukulan rotan, anakku pulang ke rumah memberitahu saya, bahwa disekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis. Sejak saat itu, anakku lebih banyak mengurung diri di kamarnya untuk berlatih menulis, yang saya yakin, jika istri saya masih ada dan melihatnya ia akan merasa bangga, tentu saja dia membuat saya bangga juga!

Waktu berlalu dengan begitu cepat, satu tahun telah lewat. Saat ini musim dingin, dan hari Natal telah tiba. Semangat Natal ada dimana-mana juga di hati setiap orang yg lalu lalang... Lagu-lagu Natal terdengar diseluruh pelosok jalan .... tapi astaga, anakku membuat masalah lagi. Ketika aku sedang menyelasaikan pekerjaan di hari-hari terakhir kerja, tiba-tiba kantor pos menelpon. Karena pengiriman surat sedang mengalami puncaknya, tukang pos juga sedang sibuk-sibuknya, suasana hati mereka pun jadi kurang bagus.

Mereka menelpon saya dengan marah-marah, untuk memberitahu bahwa anak saya telah mengirim beberapa surat tanpa alamat. Walaupun saya sudah berjanji untuk tidak pernah memukul anak saya lagi, tetapi saya tidak bisa menahan diri untuk tidak memukulnya lagi, karena saya merasa bahwa anak ini sudah benar-benar keterlaluan. . Tapi sekali lagi, seperti sebelumnya, dia meminta maaf : "Maaf, Dad". Tidak ada tambahan satu kata pun untuk menjelaskan alas anny a melakukan itu.

Setelah itu saya pergi ke kantor pos untuk mengambil surat-surat tanpa alamat tersebut lalu pulang. Sesampai di rumah, dengan marah saya mendorong anak saya ke sudut mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini? Apa yang ada dikepalanya?

Jawab anny a, di tengah isak-tangisnya, adalah : "Surat-surat itu untuk mommy.....".

Tiba-tiba mataku berkaca-kaca. .... tapi aku mencoba mengendalikan emosi dan terus bertanya kepadanya: "Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak surat-surat, pada waktu yg sama?"

Jawaban anakku itu : "Aku telah menulis surat buat mommy untuk waktu yang lama, tapi setiap kali aku mau menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi bagiku, sehingga aku tidak dapat memposkan surat-suratku. Tapi baru-baru ini, ketika aku kembali ke kotak pos, aku bisa mencapai kotak itu dan aku mengirimk anny a sekaligus".

Setelah mendengar penjelas anny a ini, aku kehilangan kata-kata, aku bingung, tidak tahu apa yang harus aku lakukan, dan apa yang harus aku katakan ....

Aku bilang pada anakku, "Nak, mommy sudah berada di surga, jadi untuk selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan sesuatu untuk mommy, cukup dengan membakar surat tersebut maka surat akan sampai kepada mommy. Setelah mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang, dan segera setelah itu, ia bisa tidur dengan nyenyak. Saya berjanji akan membakar surat-surat atas namanya, jadi saya membawa surat-surat tersebut ke luar, tapi.... saya jadi penasaran untuk tidak membuka surat tersebut sebelum mereka berubah menjadi abu.

Dan salah satu dari isi surat-suratnya membuat hati saya hancur......

'Mommy sayang',

Saya sangat merindukanmu! Hari ini, ada sebuah acara 'Pertunjukan Bakat' di sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan tersebut.. Tapi kamu tidak ada, jadi saya tidak ingin menghadirinya juga. Aku tidak memberitahu ayah tentang hal ini karena aku takut ayah akan mulai menangis dan merindukanmu lagi.

Saat itu untuk menyembunyikan kesedihan, aku duduk di depan komputer dan mulai bermain game di salah satu toko. Ayah keliling-keliling mencari saya, setelah menemukanku ayah marah, dan aku hanya bisa diam, ayah memukul aku, tetapi aku tidak menceritakan alasan yang sebenarnya.

Mommy, setiap hari saya melihat ayah merindukanmu, setiap kali dia teringat padamu, ia begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis di kamarnya. Saya pikir kita berdua amat sangat merindukanmu. Terlalu berat untuk kita berdua, saya rasa. Tapi mom, aku mulai melupakan wajahmu. Bisakah mommy muncul dalam mimpiku sehingga saya dapat melihat wajahmu dan ingat anda? Temanku bilang jika kau tertidur dengan foto orang yang kamu rindukan, maka kamu akan melihat orang tersebut dalam mimpimu. Tapi mommy, mengapa engkau tak pernah muncul?

Setelah membaca surat itu, tangisku tidak bisa berhenti karena saya tidak pernah bisa menggantikan kesenjangan yang tak dapat digantikan semenjak ditinggalkan oleh istri saya ....

Untuk para suami, yang telah dianugerahi seorang istri yang baik, yang penuh kasih terhadap anak-anakmu selalu berterima-kasihlah setiap hari padanya. Dia telah rela menghabiskan sisa umurnya untuk menemani hidupmu, membantumu, mendukungmu, memanjakanmu dan selalu setia menunggumu, menjaga dan menyayangi dirimu dan anak-anakmu.

Hargailah keberadaannya, kasihilah dan cintailah dia sepanjang hidupmu dengan segala kekurangan dan kelebih anny a, karena apabila engkau telah kehilangan dia, tidak ada emas permata, intan berlian yg bisa menggantikan posisinya.

Sumber : Milis Tetangga

Monday

Bermain Cantik Di Tempat Kerja


Setelah sibuk dengan kegiatan Natal dan Taon Baruan, baru bisa nyantai ngeblog lagi. mari di tahun 2010 ini kita semakin baik dan berkarya lagi...

Bermain Cantik Di Tempat Kerja

Sobat blogger, Anda bisa meningkatkan karir dan hubungan kerja dengan perilaku yang Anda perlihatkan sehari-hari di kantor. Terlepas dari latar belakang pendidikan Anda, pengalaman maupun jabatan, jika Anda tidak bisa bergaul dengan baik dengan karyawan lain, Anda tidak akan pernah berhasil mencapai tujuan kerja Anda.

Hubungan kerja yang efektif merupakan titik awal bagi tercapainya sukses dan kepuasaan atas pekerjaan dan karir Anda. Di samping itu, hubungan kerja yang efektif juga bisa menjadi pijakan bagi atasan untuk mempromosikan dan menaikkan gaji Anda.

Sebuah studi membuktikan bahwa ‘memiliki teman baik di tempat kerja' merupakan satu dari 11 alasan utama yang mendasari seseorang merasa puas dengan pekerjaannya.

Mengingat pentingnya hubungan yang efektif di tempat kerja, berikut 7 tips yang bisa membantu Anda mewujudkan terjalinnya hubungan yang baik dengan teman sekantor.

• Memberikan solusi cemerlang pada saat meeting. Banyak karyawan menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk mengindetifikasi masalah-masalah. Anda bisa datang dengan solusi-solusi yang cemerlang untuk mendapatkan perhatian dan penghargaan dari teman dan atasan.

• Hindari sejauh mungkin kecenderungan untuk terlalu mudah menudingkan jari ke arah orang lain, ketika tim kerja dihadapkan pada suatu masalah atau gagal mencapai tujuan. Menyalahkan orang lain hanya akan menciptakan musuh. Anda perlu sekutu untuk menyelesaikan pekerjaan Anda.

• Perhatikan bagaimana cara Anda berbicara. Bicara keras, berteriak atau bahkan membentak mungkin memang cukup efektif membuat suara Anda menggema ke seluruh ruangan, sehingga semua teman sekantor Anda mendengar. Tapi pertanyaannya, pantaskah berteriak-teriak di tempat kerja? Jawabnya tentu saja 'tidak', jika menghargai orang lain merupakan nilai yang dijunjung tinggi organisasi Anda.

• Selalu diskusikan masalah, pertama kali, dengan orang yang bersangkutan. Membicarakan masalah seseorang dengan orang lain akan membuat Anda tidak dipercaya oleh teman Anda.

• Penuhi deadline kerja Anda. Dalam sebuah organisasi, setiap pekerjaan saling berkaitan. Kegagalan Anda memenuhi deadline dan komitmen pekerjaan Anda, akan berpengaruh pada (pekerjaan) orang lain. Jika Anda gagal memenuhi komitmen terhadap pekerjaan Anda, pastikan karyawan lain tahu apa yang terjadi.

• Hargai orang-orang yang membantu Anda mencapai tujuan. Seberapa sering Anda berhasil menyelesaikan proyek tertentu tanpa bantuan orang lain? Atau, jika Anda manajer, berapa banyak ide brilian yang Anda promosikan merupakan sumbangan dari bawahan? Luangkan waktu dan perhatian khusus untuk mengucapkan terimakasih, bersikap menghargai dan mengakui orang-orang yang membantu Anda mencapai tujuan.

• Bantu orang lain menemukan potensinya. Setiap karyawan memiliki bakat, keterampilan dan pengalaman. Jika Anda bisa membantu orang lain menemukan apa yang terbaik dari dirinya, dan satu sama lain melakukan hal yang sama, bayangkan betapa besar dampaknya bagi kemajuan perusahaan. Dan, Anda tidak harus menjadi manajer untuk membantu menciptakan lingkungan yang memotivasi karyawan.

Dengan mempraktekkan tips di atas, semoga hubungan kerja yang efektif akan tercipta di lingkungan kantor Anda: karyawan lain menghargai Anda sebagai kolega dan bos percaya, Anda telah bermain secara benar dalam tim. Target dan tujuan kerja Anda tercapai, dan pada saat yang bersamaan Anda mendapatkan kesenangan, pengakuan dan motivasi diri.

Selamat mencoba.